Tiga Arca Mataram Kuno Ditemukan di Sleman: Cerita, Makna, dan Misteri di Balik Arca-Agastya dkk
Jangkauan Tanggerang Selatan – 3 Arca Mataram Kuno Penemuan artefak kuno baru-baru ini mengungkapkan bahwa jejak peradaban Hindu masa Mataram Kuno jauh lebih banyak tersimpan di tanah Sleman daripada yang selama ini diketahui. Di antara temuan-temuan utama adalah tiga arca yang ditemukan warga, yang kemudian diteliti oleh BPCB Yogyakarta. Berikut liputan lengkap, dari detail penemuan hingga potensi yang masih tersimpan.
1. Kronologi & Lokasi Penemuan
Desember 2016, Sayegan, Sleman
Sejumlah warga menemukan tiga buah arca di aliran sungai di daerah Sayegan, Sleman.
Januari 2020, Widodomartani, Desa Kalijeruk, Ngemplak, Sleman
Kedalaman sekitar 4 meter, bentuk masih cukup jelas walau sebagian bagian sudah rusak atau hilang.
Baca Juga: Persib Bandung vs Persebaya, Big Match Super League Ajang Pembuktian Thom Haye dan Eliano Reijnders
2. Deskripsi Arca & Identitas Simbolis
Ketiga arca yang pernah ditemukan antara lain:
| Nama Arca | Ciri dan Deskripsi | Zaman & Perkiraan Usia | Kondisi Fisik |
|---|---|---|---|
| Agastya | Resi dalam mitologi Hindu, berjenggot, membawa kendi (wadah air), perut agak buncit sebagai ciri ketua resi/pendeta tua. Sering menjadi salah satu arca dalam susunan lima arca di sisi mata angin pada sebuah candi. | Abad ke‑9 M / ± 800‑900 Masehi, masa Mataram Kuno. | Beberapa bagian hilang; tangan kanan Agastya di satu arca hilang terkena benturan alat berat. |
| Nandiswara / Nandi | Nandi adalah lembu, simbol kedekatan dengan Siwa; arca sapi ditemukan sangat jelas bentuknya sebagai Nandi. Nandiswara mungkin varian atau nama lokal. | Sama era, abad ke‑9 M. | Kondisi relatif baik, walau ada retakan atau bagian bawah yang patah. |
| Durga | Arca yang memuat sosok Durga, biasanya digambarkan dengan atribut khas dan sering digunakan sebagai bagian dari rangkaian patung-patung yang menempel di dinding candi. | Abad ke‑9 atau ke‑10 M. |
3. Hubungan dengan “Arca Agastya” dan Potensi Struktur Candi
Penemuan beberapa arca (Nandi, Agastya, Durga) di suatu area menunjukkan pola bahwa mereka mungkin merupakan bagian dari struktur candi yang hilang atau terkubur. BPCB menyebut bahwa biasanya sebuah candi Hindu pada masa Mataram Kuno memiliki susunan arca di tiap sisi mata angin, minimal lima arca: Agastya, Nandiswara, Durga, Ganesha, dan Kala.
4. Signifikansi Arkeologis & Pelestarian
Penemuan ini membuka peluang bahwa masih banyak situs sejarah yang belum terjamah secara formal di Sleman.
5.3 Arca Mataram Kuno Misteri & Pertanyaan yang Belum Terjawab
Berapa banyak arca yang masih tersembunyi? Jika satu sisi candi memerlukan lima arca berdasarkan mata angin, apakah seluruh struktur candi masih utuh, atau sudah banyak tergerus?
Seberapa besar candi tersebut? Apakah candi perwara kecil (pendamping) atau bagian dari candi induk yang lebih besar?
Bagaimana kondisi uang waktu terhadap arca‑arca (pengikisan, kerusakan, perpindahan, kehilangan bagian)? Bagian‑bagian seperti tangan, kepala sering rusak — apa yang menyebabkan: faktor alami, vandalisme, pembangunan modern, ketidaktahuan?
6.3 Arca Mataram Kuno Kesimpulan & Harapan ke Depan
Penemuan tiga arca di Sleman (Agastya, Durga, Nandiswara) plus beberapa penemuan arca Nandi dan Agastya lainnya menegaskan bahwa Sleman adalah salah satu kawasan penting peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. Arca-arca ini bukan hanya artefak berdiri sendiri, melainkan bagian dari struktur keagamaan (candi) yang kemungkinan besar terkubur atau belum sepenuhnya terungkap.
Harapan ke depan:
Pelibatan warga sebagai pelapor dan pelindung situs, agar tidak ada artefak yang hilang atau kerusakannya makin parah.
Pendanaan dan penelitian interdiscipliner (arkeologi, sejarah, geologi) agar bisa mengungkap usia, fungsi, dan peran candi tersebut dalam sejarah lokal dan Hindu di Jawa Tengah/Yogyakarta.






