Dari Buron Jadi Sekutu AS: Ahmed al‑Sharaa, Presiden Suriah, Kunjungi Gedung Putih
Latar Belakang Yang Luar Biasa
Jangkauan Tanggerang Selatan – Dari Buron Jadi Sekutu Ahmed al-Sharaa bukanlah sosok biasa dalam kancah geopolitik Suriah. Dahulu ia dikenal sebagai panglima pemberontak yang memimpin kelompok Hayat Tahrir al‑Sham (HTS), organisasi yang berakar dari garis keras jihadis di Suriah utara. Setelah jatuhnya rezim Bashar al‑Assad pada Desember 2024 dalam sebuah ofensif cepat, al-Sharaa muncul sebagai pemimpin transisi baru Suriah.
Revolusi selesai, rezim lama telah tumbang,” katanya dalam sebuah wawancara media Arab.
Klipnya diidentikkan sebagai buronan sejarah yang kemudian beralih haluan, menjalin hubungan dengan banyak pihak internasional. Kini, posisinya mendekati dunia diplomasi utama: ia akan menjadi Presiden Suriah pertama yang mengunjungi jajaran tertinggi pemerintahan Amerika Serikat sejak puluhan tahun. 
Baca Juga: Mantan Ketua KPK Antasari Azhar Meninggal Dunia
Kunjungan ke Gedung Putih: Titik Balik Hubungan AS-Suriah
Pada November 2025, al-Sharaa dijadwalkan mengunjungi Gedung Putih sebagai tamu resmi Donald Trump — ini akan menjadi pertama kalinya seorang Presiden Suriah resmi diterima di Washington.
Rencana kunjungan itu diumumkan oleh Menlu Suriah Asaad al‑Shaibani yang menyatakan bahwa agenda akan mencakup: pembahasan pencabutan sanksi AS, kerjasama keamanan dan rekonstruksi Suriah.
Transformasi Strategis: Dari “Musuh” Menjadi “Sekutu”
Beberapa hal menandai perubahan arah al-Sharaa dan rezim barunya:
Al-Sharaa secara terbuka menyatakan bahwa Suriah siap untuk normalisasi hubungan luar negeri dan menarik kehadiran asing ilegal dalam wilayahnya — termasuk pasukan AS yang bertahan tanpa persetujuan Damaskus.
Ia menerima kunjungan Komando Pusat AS (CENTCOM) di Damaskus, sebuah bukti nyata bahwa Washington dan Damaskus mulai membuka dialog keamanan langsung.
Ia juga menunjukkan kesediaan untuk memasuki koalisi internasional melawan kelompok teroris seperti Islamic State (IS), yang merupakan prioritas AS.
Motivasi AS & Suriah
Untuk AS, hubungan dengan Suriah yang baru bisa membuka peluang strategis:
Mendapat akses ke wilayah Suriah dalam rangka memerangi kelompok teroris yang masih aktif.
Mengurangi pengaruh rival geopolitik seperti Rusia dan Iran di Suriah dengan menggandeng Damaskus.
Mengamankan jalur geopolitik dan energi Timur Tengah melalui stabilitas Suriah.
Bagi Suriah dan al-Sharaa, ini adalah kesempatan:
Membuka pintu bagi dana rekonstruksi dalam negeri dan investasi asing yang sempat tertutup karena sanksi.
Memperkuat legitimasi pemerintah transisi di mata internasional.
Menegaskan kontrol dan kedaulatan atas wilayah setelah bertahun-tahun konflik internal.
Dari Buron Jadi Sekutu Tantangan Besar di Depan
Walau banyak potensi, sejumlah hambatan masih nyata:
Sanksi AS masih berlaku secara resmi (misalnya Caesar Syria Civil Protection Act) dan pencabutannya bukan perkara mudah.
Kepercayaan internasional terhadap al-Sharaa masih rapuh, mengingat masa lalunya sebagai pemberontak dan pemimpin kelompok jihadis.
Stabilitas Suriah internal masih rapuh: konflik antar faksi, menghadapi Israel di Golan, serta pengaruh Iran dan Rusia masih besar.
Implikasi Global
Kunjungan Presiden Suriah ke Gedung Putih ini bisa menjadi sinyal perubahan besar dalam geopolitik Timur Tengah:
Bagi Iran dan Rusia: mereka mungkin harus menyesuaikan strategi jika Suriah semakin dekat dengan AS.
Bagi Israel: semakin terbukanya Suriah bisa berarti tekanan baru politis atau diplomatis atas Golan dan konflik perbatasan.
Bagi negara Arab dan kawasan: pengakuan kembali Suriah bisa membuka gelombang normalisasi hubungan yang sebelumnya tertunda.
Kesimpulan
Transformasi al-Sharaa dari “buron” dan pemberontak menjadi sekutu potensial AS adalah cerita unik di panggung global. Kunjungan ke Gedung Putih menjadi bagian simbolik dari babak baru hubungan AS-Suriah setelah dekade konflik dan isolasi. Namun, janji diplomasi ini besar—dan jalan menuju tercapainya stabilitas dan kepercayaan masih panjang.






